Gifted-disinkroni

TENTANG ANAK GIFTED YANG MENGALAMI DISINKRONITAS PERKEMBANGAN - suatu kelompok gifted children - dan bukan merupakan kelompok autisme, ASD, Asperger Syndrome ataupun ADHD - namun anak-anak ini sering mengalami salah terdiagnosa menjadi kelompok anak autisme ringan, ASD, Asperger Syndrom ataupun ADHD

Rabu, Februari 14, 2007

Tinggalkan Kelas Akselerasi, Masuk Kelas Inklusi

Menyambut seminar Deteksi dan Pendidikan Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa, 3 Maret 2007.
Tinggalkan Kelas Akselerasi, Masuk Kelas Inklusi

Oleh
Julia Maria van Tiel

JAKARTA-Hingga kini kita hanya mengenal kelas akselerasi (percepatan) untuk anak-anak berbakat (gifted children) Indonesia. Sesungguhnya kelas akselerasi sudah banyak ditinggalkan.
Keuntungannya memang anak didik dapat didorong agar berprestasi lebih cepat. Sayangnya, anak berbakat muda yang tengah berkembang, namun setengah dari populasi itu justru underachiever. Ini karena tumbuh kembang mereka berbeda dari anak normal, yang menyebabkan kesulitan dalam menerima pembelajaran konvensional.
Sekalipun mereka mempunyai loncatan perkembangan kognitif dan motorik kasar, terapi mereka dapat tertinggal pada kematangan perkembangan, baik fisik, emosi, motorik halus, adaptasi, sosial, bahasa, dan bicara. Ini yang menyebabkan ketidaksiapan menerima pembelajaran. Bisa juga karena membutuhkan pendekatan khusus, mereka sulit berprestasi di kelas konvensional atau klasikal.
Mereka membutuhkan pendekatan dua arah sekaligus. Mengeliminasi kesulitan akibat perkembangannya yang unik, dan juga sekaligus keberbakatannya. Jika hanya mengatasi beberapa masalah saja, dari banyak laporan, justru hanya akan menambah masalah baru. Ini disebabkan karena dorongan internal anak-anak berbakat adalah memenuhi rasa keingintahuannya yang besar melalui eksplorasi dan pengembangan intelektualitasnya. Ini membutuhkan penyaluran dan pemenuhan kebutuhan.
Andaikan hanya mengupayakan kelas akselerasi saja, anak ini tidak akan terdeteksi sebagai anak berbakat dan juga tidak akan menerima pendidikan sebagaimana keunikan, kesulitan, dan kebutuhannya. Kesemua ini mengancam nasibnya di kemudian hari.
Apa yang dibutuhkannya dalam pendidikannya adalah bimbingan guru yang memahami berbagai karakteristiknya, personalitasnya, tumbuh kembangnya, gaya berpikir, dan gaya belajarnya, yang memang berbeda dari anak-anak normal pada umumnya.
Mereka butuh pendekatan pembelajaran dua arah sekaligus. Pertama ke arah kesulitannya di mana ia membutuhkan dukungan, stimulasi, terapi, remedial teaching, dan kesabaran. Kedua, membutuhkan berbagai materi yang sesuai dengan karakteristik berpikir seorang anak berbakat yang lebih kepada materi yang penuh tantangan pengembangan kreativitas dan analisis.
Sekolah reguler yang mampu menerima anak-anak berbakat agar dapat mengikuti pendidikan saat di fase-fase sulitnya di kelas-kelas sekolah dasar bersama anak normal lainnya, sekaligus juga menerima layanan pengembangan keberbakatan, disebut sekolah inklusi.
Guru diharapkan dapat membimbingnya menapaki tahapan tumbuh kembangnya yang sulit tersebut dalam situasi aman agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara sehat dalam lingkungan yang nyaman. Sebab anak-anak berbakat yang mempunyai gejala mirip dengan autisme ataupun ADHD, tidak layak jika diterapi dan dididik sebagai autisme atau ADHD, karena sekalipun mempunyai gejala yang mirip namun mempunyai perbedaan yang tegas, serta neurobiologis dan akar permasalahan yang berbeda.
Guna memenuhi hal ini, guru perlu mendapatkan pelatihan-pelatihan yang memadai dan selalu mengikuti penyegaran keilmuan guna mengikuti perkembangan strategi pengajaran yang didukung oleh hasil-hasil penelitian mutakhir (evidence based practice) yang kini sangat pesat berkembang. n

Penulis adalah pembina kelompok diskusi Grup Anak Berbakat.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0702/09/ipt02.html

....


 

 

Sabtu, Februari 03, 2007

Deteksi Dini Anak Berbakat Perlu Dukungan Dokter Tumbuh Kembang

Deteksi Dini Anak berbakat
Perlu Dokter Tumbuh Kembang


Menyambut seminar Deteksi dan Pendidikan Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (Gifted & Talented Children) 3 Maret 2007 dari Kelompok Diskusi Orang Tua Anak Berbakat bersama Dit PSLB Mandikdasmen Depdiknas RI.


OlehJulia Maria van Tie

lJAKARTA-Anak berbakat (gifted children) biasanya ditandai dengan IQ di atas rata-rata. Hasil tesnya baru bisa dipercaya di atas usia 10 tahun, sebelumnya masih diragukan karena sedang dalam tahap perkembangan. Artinya di usia sekolah dasar mereka baru dikenal jika menggunakan batasan IQ. Namun anak-anak ini harus bisa dikenali sejak balita dan perlu dikelompokkan sebagai anak berkebutuhan khusus, karena mempunyai tumbuh kembang yang berbeda. Masa balitanya menunjukkan perilaku khusus yang dapat disalah artikan sebagai anak bergangguan perkembangan, perilaku bermasalah dan gangguan mental. Karena itu, anak-anak ini perlu dideteksi sedini mungkin, dengan melihat berbagai karakteristik tumbuh kembang dan personalitasnya agar ia dapat menerima pembinaan sebaik-baiknya sebagai anak gifted sedari awal.

Ia memerlukan pendekatan ke dua arah sekaligus. Berbagai masalah tumbuh kembang yang menyulitkan, karakteristik personalitasnya yang menyikat kesabaran orang tua dan guru, dan kearah keberbakatan sebagai potensi luar biasa yang dimilikinya. Pendekatan dua arah ini membutuhkan sejumlah profesi yang mampu menjelaskannya. Dokter, psikolog, pedagog/orthopedagog, ahli patologi wicara, dan ahli gerak. Tanpa penjelasan dari bidang-bidang keilmuan ini, tak kan mungkin orang tua dan guru mengarahkannya. Karena itu kerjasama secara multidisiplin memang sangat dibutuhkan. Namun, bidang-bidang ini tak mungkin mampu turut menjelaskan jika tidak ada penjelasan dari dokter tumbuh kembang. Ia profesi yang terdepan dalam mengamati tumbuh kembang anak berbakat.

Setidaknya, dokter tumbuh kembang harus mampu menjelaskan bagaimana prakiraan kedepan perkembangan anak tersebut dengan cara melihat berbagai komponen pemeriksaan berkala yang meliputi: perkembangan motorik halus dan kasar, perkembangan bahasa dan bicara, adaptasi, dan perilaku sosial. Dari berbagai komponen itu seorang dokter tumbuh kembang dituntut mampu melihat apakah pasien kecilnya mengalami loncatan perkembangan kognitif yang merupakan gejala balita gifted dan segera dikelompokkan sebagai anak yang membutuhkan perhatian khusus. Adanya loncatan di satu atau beberapa bagian tumbuh kembangnya akan dapat menyebabkan tumbuh kembang itu mengalami ketidak sinkronan yang dapat berakibat dalam perkembangan lain termasuk perkembangan perilaku, sosial, emosional, dan juga inteligensianya mengalami perkembangan yang krusial. Motorik kasarnya berkembang pesat ketertinggalan dalam motorik halus, kemampuan pandang ruang yang didukung oleh perkembangan perceptual (visual) menyebabkan terganggunya perkembangan pemrosesan auditory berakibat pada keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara. Ia merupakan anak-anak berisiko, jika tidak ditangani dengan baik, dapat menyebabkan perkembangannya salah arah, salah penanganan, gangguan perilaku dan emosi, serta tidak berprestasi di sekolah. Belum berkembangnya secara maksimal kedokteran tumbuh kembang di negara kita, sementara perkembangan di sisi lain deteksi anak-anak berkekhususan yang semakin detil tanpa diikuti dengan data tumbuh kembang anak, bisa jadi anak-anak gifted ini terlibat dalam berbagai diagnosa yang tidak menguntungkan baginya.

Hingga saat ini konsep tumbuh kembang di negara kita baru mampu menjangkau tumbuh kembang dengan indikator kesehatan melaui perbaikan gizi guna mencegah penyakit-penyakit infeksi yang beberapa dekade lalu banyak melanda balita Indonesia. Namun tuntutan pendidikan kini menjadi lebih luas daripada itu. Tuntutan pendidikan membutuhkan data tumbuh kembang demi kesiapan sekolah (school readiness). Data tumbuh kembang akan juga digunakan sebagai dasar deteksi keberbakatan (giftedness) sedini mungkin yang dilakukan oleh berbagai profesi lain seperti psikolog, orthopedagog/pedagog, dokter sekolah, bahkan guru dan orang tua. Di sinilah pentingnya peranan kedokteran tumbuh kembang. Sudah saatnya kini kedokteran tumbuh kembang lebih berperan aktif dalam menunjang kesiapan seorang anak terutama anak-anak berkebutuhan khusus agar dapat menerima pendidikan, stimulasi dan terapi serta pengasuhan yang sesuai dengan kondisinya. n

Penulis adalah pembina kelompok diskusi Grup Anak Berbakat

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0702/02/ipt02.html

....


 

 

Senin, Januari 29, 2007

Perlu Perubahan Konsep Keberbakatan

Perlu Perubahan Konsep Keberbakatan

Tulisan ini dalam rangka menyambut seminar Deteksi dan Pendidikan Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (Gifted & Talented Children) 3 Maret 2007 dari Kelompok Diskusi Orang Tua Anak Berbakat bersama Dit PSLB Mandikdasmen Depdiknas RI.

OlehJulia Maria van Tiel

JAKARTA-Dari pengalaman banyak orang tua yang tergabung dalam komunitas milis anakberbakat@yahoogroups.com, terdapat rasa sedih menghadapi anak-anaknya. Saat masih balita banyak yang mendapatkan diagnosis autisme atau ADHD. Menerima bermacam terapi dan obat-obatan, tetapi kenyataannya saat mulai agak besar ia mempunyai prestasi yang baik di beberapa bidang keilmuan, hobi yang sangat baik dalam musik, menggambar, dan desain. Ia pun keluar dari kriteria sebagaimana diagnosisnya. Beberapa di antaranya memang masih mengalami kesulitan yang perlu penanganan khusus karena mengalami learning disabilities (gangguan belajar), ketertinggalan perkembangan sosial, dan masalah emosional.

Ambil contoh Tomo, putra dari Ibu Wasitowati dari Tegal, masa kecilnya yang terlambat bicara pernah dianjurkan operasi telinga untuk implantasi cochlea. Karena tidak mempunyai uang, operasi itu tidak dilaksanakan. Kemudian ia dianjurkan masuk asrama anak bisu-tuli di Wonosobo. Karena si ibu merasa kasihan, ia mencari opini lain. Tetapi Tomo mendapatkan diagnosis lain, bukan tuli karena memang mulai bisa bicara saat usia 4 tahun, diagnosis berganti dengan autisme dan harus mendapatkan terapi. Saat berusia 5 tahun sekali lagi ia menjalankan tes psikologi pada seorang psikolog yang menspesialisasikan pada anak gifted, nyatanya ia mempunyai potensi giftedness (keberbakatan) dengan inteligensia sangat baik yang selama ini tidak menjadi pertimbangan. Kini ia duduk di sekolah dasar dengan prestasi yang baik. Mengingat hal ini, Bu Wasitowati selalu saja menarik nafas, ngenas.

Kisah seperti ini bukan hanya melanda Indonesia, tetapi hampir menyeluruh di seluruh dunia. Di setiap kongres dan seminar internasional tentang gifted children selalu saja dihadirkan sesi yang membicarakan kesalahan diagnosis ini. Usulan agar perkembangan anak-anak ini menjadi diagnosis pembanding gangguan perkembangan autisme ataupun ADHD, selalu saja dikumandangkan oleh banyak psikolog terkenal di dunia. Tetapi hingga kini belum ada kriteria pembanding yang digunakan oleh pihak psikiatri, yang pada akhirnya anak-anak ini bila masuk ke ruang dokter atau psikolog klinik akan mendapatkan diagnosis itu.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Dimana peranan psikolog sebagai profesi yang seharusnya mampu mendeteksi sedini mungkin agar musibah kesalahan diagnosis itu dapat dihindari? Dari sisi deteksi anak gifted, keribetan ini, awalnya adalah dari konsep gifted yang selama ini digunakan berdasar teori The Three Rings dari Renzulli (Amerika) bahwa seorang anak gifted adalah yang mempunyai inteligensia di atas rata-rata (di atas 130); motivasi dan komitmen terhadap tugas yang tinggi; serta kreativitas yang tinggi. Konsep ini juga masih digunakan dalam pengembangan anak-anak berbakat (gifted) Indonesia. Dalam konsep ini, anak gifted adalah yang mempunyai prestasi baik dan ber-IQ di atas rata-rata.

Anak gifted muda terutama highly gifted mempunyai tumbuh kembang yang krusial yang dalam berbagai tesnya tidak mungkin mencapai itu semua karena tengah berkembang. Ia mengalami ketidaksinkronan perkembangan yang dapat memungkinkan berbagai perkembangannya mirip dengan berbagai gangguan perilaku, emosional, bahkan gangguan mental, bahkan giftedness-nya tertutupi oleh masalahnya. Hal yang sama pernah terjadi di Belanda di tahun 1970-an saat diagnosis Minimal Brain Damage tengah trendy. Anak-anak itu masuk dalam panti-panti, pusat revalidasi, atau sekolah-sekolah khusus untuk anak yang sangat bermasalah. Saat dilakukan evaluasi inteligensia, anak-anak ini mempunyai giftedness yang tidak pernah menjadi bahan pertimbangan. Sejak itu dilakukan penelitian panjang terhadap anak-anak ini yang hasilnya melengkapi teori Renzulli menjadi Triadik Renzulli-Mönks yang dipublikasi tahun 1986.

Dengan adanya teori ini, konsep gifted berubah, ia menjadi konsep multidimensional dan dinamis karena menyangkut selain perkembangan inteligensia (kognitif) juga karakteristik personalitasnya, tumbuh kembangnya, dan lingkungannya.Perubahan lain juga menyangkut yang semula giftedness sebagai produk kini giftedness sebagai potensi. Potensi ini tidak akan terwujud jika tidak didukung oleh lingkungan bagaimana mendeteksi dan menanggapinya, pengasuhan dalam keluarga, dan pendidikan di sekolahnya. Kini konsep ini sudah digunakan oleh banyak negara maju di dunia dan deteksi dimulai sedini mungkin saat sebelum usia taman kanak-kanak, tanpa harus menunggu bahwa ia telah mampu menjalankan tes IQ yang aturannya dilakukan di atas 6 tahun.

Penulis adalah pembina pada Anak Berbakat.
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0701/26/ipt02.html

....


 

 

Selasa, Januari 23, 2007

MENGAMATI GEJALA GIFTED SEJAK BAYI

MENGAMATI GEJALA GIFTED SEJAK BAYI

Apakah anda penasaran bahwa bayi kesayangan anda mempunyai potensi bawaan sebagai anak gifted?
Dalam artikel di bawah ini dengan bantuan dokter anak yang melakukan pemantauan tumbuh kembang, kita akan segera tahu bahwa anak kita adalah anak gifted yang sebetulnya memerlukan perhatian ekstra, pengasuhan ekstra hati-hati dan kesabaran luar biasa.

Klik disini

lOMPATAN PERKEMBANGAN ANAK GIFTED

....


 

 

Kamis, Januari 18, 2007

DAFTAR ISI BUKU "ANAKKU TERLAMBAT BICARA"


“ANAKKU TERLAMBAT BICARA”
Anak berbakat dengan disinkronitas perkembangan, memahami dan mengasuhnya.
Membedakannya dengan Autisme dan ADHD, serta permasalahan gangguan belajar.
Penulis: Julia Maria van Tiel


Sekapur Sirih v

Daftar Isi vii

Bab 1: Memahami Kata Gifted dan Fenomenanya 1
Anakku Gifted Disinkroni, Cerdas Sekaligus Mengalami Kesulitan 3
Terlambat Bicara 9
Tak Kreatif,Tak Mau, atau Tak Mengerti? 14
Ibu Guru Terengah-engah 18
Tak Dimengerti Apa Maunya, atau Ia Tak Mengerti Maksud Kita? 20
Melalui Berbagai Tes Mencari Gambaran Utuh 22
Mengamati Gejala Keberbakatan 33
Memahami, Modal Membangun Kesabaran 44

Bab 2: Cerdas Tetapi Mengapa Bermasalah? 47
Aku Harus Mengubah Pandangan 49
Disinkronitas Perkembangan 53
Disinkronitas Inteligensia 63
Sosial Emosional, Menarik Diri, Tak Berdaya, dan Menjadi Bahan Ejekan 66
Twice Exceptional, Keistimewaan atau Kesulitan Ganda? 71
Cerita tentang Mark, Twice Exceptional Gifted Child yang Menderita, 76
Anak Berisiko Sedini Mungkin Perlu Teridentifikasi 81

Bab 3: Mengenal Karakteristik 87
Bagaimana Agar Bisa Tahan? 89
Membutuhkan Pendekatan Dua Arah 92
Melihat Gejala Secara Positif, Faktor Kuat dan Lemah Anak Gifted 97
Membaca Masalah dan yang Kita Temui Sehari-hari 101
Memori Fotografis, Mudah Mengingat—Sulit “Disetip” Lagi 103
Kreativitas Tinggi, Tukang Nggratak, Selalu Banyak Usul 111
Perfeksionisme, Segalanya Harus Perfek, Presisi, dan Sulit Fleksibel 117
Inteligensia Tinggi dan Metakognisi Memicu Anxiety 122
Faalangst, Rasa Takut Berbuat Salah Padahal Bisa 126
Overexcitability, Reaksinya Berlebihan 129
Didaktik, Keras Kepala, Tak Mau Diperintah dan Tak Tahan Rutinitas 132

Bab 4: Tumbuh Kembangnya Memang Khusus 135
Prestasi sebagai Perwujudan Nature dan Nurture 137
Perkembangan Anak, Unik dan Beragam 143
Perkembangan Emosional, Perkembangan Utama 147
Komunikasi Nonverbal, Bentuk Komunikasi yang Sangat Penting 151
Perkembangan Kognitif, Terjadi Loncatan Perkembangan 154
Perkembangan Sensoris, Skalanya Besar 158
Perkembangan Sosial, Perkembangan Khusus atau Bermasalah? 162
Perkembangan Fantasi dan Kreativitas, Tabrakan antara Dunia Fantasi
dan Realita, 166
Perkembangan Bahasa dan Bicara, Visualisasi dalam Berbahasa, 170
Motorik Kasar Berkembang Hebat, Tertinggal dalam Perkembangan
Motorik Halus 184

Bab 5: Gifted atau Autisme: Bagaimana Membedakannya? 187
Selalu Menjadi Pertanyaan 189
Mengapa Terjadi Kesalahan Diagnosa? 192
Autisme, Apakah Itu? 196
Perkembangan Bicara pada Autisme, Terlambat Bicara Selalu Menjadi
Alasan Utama 202
Emosi sebagai Dasar Perkembangan, Tipisnya Perkembangan Emosi Bayi
Autisme 206
Perkembangan Kognitif Autisme, Defisit dalam Perkembangan Kreativitas dan
Kemampuan Pemecahan Masalah 212
Perilaku Repetitif—Stereotipik—dan Rigid 214
Asperger Syndrome Tanpa Terlambat Bicara 219
Savant Syndrome 226

Bab 6: Antara ADD/ADHD dan Gifted Apa Bedanya? 229
Anakku Banyak Gerak dan Sulit Berkonsentrasi Menjadi Keluhan Utama 231
ADD/ADHD dalam Aspek Neurologi 235
Gifted Plus, Gifted dengan Masalah Ganda 240
Faktor yang Berpotensi Menjadi Masalah 247
Sulit Diidentifikasi 254
Bagaimana Membedakannya? 256

Bab 7: Gifted Visual-Spatial Learner, Bagaimana Masa Depannya? 261
Visual-Spatial Learner, Apakah Itu? 263
Genetik dan Bagaimana Penjelasannya? 266
Visual-Spatial vs Auditory Sequential, Perbedaan Karakteristiknya 272
Sinyal Awal 275
The Late Bloomer 280
Apakah Anakku Disleksia? Belum Tentu 285
Disleksia 288
Diskalkulia 299
Disgrafia 302
Harus Cepat Teridentifikasi 304

Bab 8: Intervensi dan Stimulasi 307
Intervensi Mana yang Perlu Mendapatkan Prioritas? Cukup Membingungkan 309
Intervensi Perkembangan Bahasa dan Bicara, Pure Dysphatic Development
Apakah Itu? 311
Tinjauan Neurologis Xavier Tan 318
Differential Diagnosis 320
Prinsip Penanganan 321
Konsep Perkembangan Berbahasa dan Bicara, Fase Preverbal 321
Faktor Pendukung 323
Prinsip Penanganan pada Fase Awal Verbal 323
Terapi Wicara Fase Verbal 325
Tujuan dan Perangkat 327
Ergotherapy 327
Intervensi Lain 327
Berbagai Akibat Perkembangan Bahasa dan Bicara yang Tertinggal 328
Rendahnya Respons Panggilan Akibat Hiperfokus 329
Tertinggalnya Perkembangan Sosial 330
Kekurangan dalam Hal Fleksibilitas dan Adanya Kekakuan 331
Kekurangmampuan Fantasi dan Imajinasi 332
Terkembangnya Rasa Takut dan Faalangst Negatif 333
Kekurangmampuan Adaptasi Terhadap Lingkungan dan Adaptasi Terhadap
Perubahan 335
Keadaan Gangguan Konsentrasi 336
Anxiety dan Perilaku Seperti Paranoia 337
Perkembangan Sensoris yang Terlalu Hebat, (taktil/raba, auditori, visual,
pengecapan, dan penciuman 338
Perkembangan Motorik, Tidak Sinkron antara Motorik Kasar dan
Motorik Halus 339
Perkembangan Sosial Emosional, Terlalu Sensitif, dan Jaga Imej, 340
Gangguan Belajar dan Bimbingannya 341
Membaca, Mengeja, dan Dikte 343
Menulis 344
Berhitung 345

Bab 9: Pengembangan Keberbakatan 347
Bakat Apakah Itu? 349
Model Pendidikan 355
Masuk dalam Sekolah Reguler 355
Adaptive Education, dan Psychoeducational Assesment 358
Diagnostik dan Portfolio 360
Kompetensi di dalam Kelas 362
Program Pelayanan Keberbakatan 363
Bentuk Pendidikan Sekolah Dasar Lain 364
Peranan Orang Tua 365
Apa yang Perlu Diketahui 365
Pengembangan Kreativitas dan Bakat 367
Anak Bertalenta, Cerdas, dan Berbakat 369
Pengembangan Intelektualitas 371
Pengembangan Bakat Keterampilan Motorik 377
Pengembangan Bakat Seni 378

Bab 10: Penutup 381
Risalah Tuhan 383
Mengasuh dan Mendidiknya 384
Sangkar yang Hangat 387
Saling Mendukung dan Berbahagialah 387
Penulis 395


Penerbit Prenada Media

Mulai beredar sejak awal Februari 2007 di toko buku Gramedia seluruh Indonesia

....


 

 

Selasa, Januari 16, 2007

SEMINAR GIFTED & TALENTED CHILDREN

Trend Pendidikan Khusus
DETEKSI DAN PENDIDIKAN ANAK CERDAS ISTIMEWA DAN BERBAKAT ISTIMEWA
3 Maret 200708.00-13.00 WIB
di Gedung Indosat,tbk, Lantai 4Podium depan (gedung depan)
Jl Merdeka Merdeka Barat 21
Jakarta

Penyelenggara:Kelompok Diskusi Orang Tua Anak Berbakat
dan Dit PSLB Mandikdasmen Depdiknas

Secara global pengasuhan dan pendidikan anak-anak masa kinicenderung semakin rumit, menuntut guru semakin professional danmenuntut orang tua untuk semakin turut berperan serta. Bukan itusaja, adanya pemeriksaan tumbuh kembang yang semakin teliti,menjadikan munculnya banyak kelompok anak-anak dengan keunikannyamasing-masing yang kemudian disebut sebagai anak berkebutuhankhusus, termasuk di dalamnya adalah anak berbakat (gifted children)yang mengalami masalah perkembangan atau disinkronitas perkembangan(yang kami beri istilah Gifted Disinkroni), misalnya mengalamiketerlambatan bicara, masalah sosial emosional, dan sebagainya.

Konsep gifted kini juga semakin berubah dari single konsep bahwagifted adalah perkembangan kognitif semata, menjadi konsepmultidimensional dan dinamis, karena menyangkut bukan hanyaperkembangan kognitif saja tetapi juga karakteristikpersonalitasnya, tumbuh kembangnya, dan lingkungannya. Karena itukini semakin diketahui bahwa ternyata anak-anak gifted ini memilikiberbagai masalah dalam kehidupannya, yang belum banyak kita kenal.

Tak heran jika kini banyak anak-anak gifted balita mendapatkankekeliruan diagnosa seperti autisme atau ADHD, maupun gangguanbelajar (learning disabilities).Situasi ini mendorong orang tua, guru, dan berbagai profesi lainnya(orthopedagog, psikolog, dokter) untuk lebih mempelajari berbagaibentuk ini serta strategi pendekatannya. Orang tua dituntut dalamrangka pengasuhannya di rumah dan membantu pendidikannya di sekolah,guru dituntut memberikan metoda pengajaran yang cocok, pihak profesilainnya dituntut memberikan arahan bimbingan dan saran, sertapengambil keputusan dan pemegang kebijaksaan pendidikan di tingkatpemerintahan pun dituntut untuk senantiasa memperbaharui strategipendidikan nasional.

Seminar ditujukan bagi:
- Praktisi sekolah : guru sekolah reguler maupun guru anak berkekhususan dan gifted children
- Professional (dokter, psikolog, pedagog) serta pemerhatiperkembangan anak dan pendidikan
- Orang tua pada umumnya, serta orang tua anak berkebutuhankhusus dan gifted children

Seminar membahas :
- Berbagai bentuk dan trend perubahan sistem pendidikan padaumumnya dan pendidikan khusus di negara-negara maju dimasa kini.
- Berbagai jenis pola dan strategi pemeriksaan berkala tumbuhkembang anak & psychoeducational assessment center sebagai pilarpendidikan dasar,
- Pentingnya school readiness, pengasuhan dan pendidikan yangefisien serta efektif .
- Pentingnya penerapan sistem evidence based practice,- Berbagai teori yang mendasari pengasuhan dan pendidikan masakini serta trend bentuk-bentuk pendidikan mutahir bagi anakberkekhususan dan anak gifted dengan disinkronitas perkembangan.
- Deteksi dan pola pengasuhan serta pendidikan anak gifteddengan disinkronitas perkembangan
- Pendidikan yang cocok untuk anak gifted dengan disinkronitasperkembangan .

Obyektif seminar :
- Peningkatan awareness dan pengetahuan tentang perubahanfilosofi pendidikan terkini untuk anak berbakat
- Pemahaman tentang berbagai bentuk pengasuhan dan pendidikanmutahir untuk anak berbakat dalam kelas inklusi berdasarkan evidencebased practice dan ditunjang oleh pemeriksaan berkala tumbuh kembangserta psychoeducational diagnostic
- Pemahaman pentingnya peranan guru dan orang tua untukterlibat penuh dalam proses intervensi dan program pendidikan anakberbakat, dalam upaya menuju pendekatan yang lebih profesional
- Pengadopsian manfaat dari contoh perbandingan pendidikanuntuk anak berbakat di Amerika dan Belanda

Pembicara kunci:Drg. Ekodjatmiko Sukarso, M.M, M.Kom., Direktur PSLB, MandikdasmenDepdiknas RI.
Sekaligus meresmikan Forum Komunikasi Gifted & Talented ChildrenDit PSLB Mandikdasmen Depdiknas, dan peluncuran buku tentang anakberbakat dengan disinkronitas perkembangan: Anakku terlambatberbicara, memahami dan mengasuhnya (penulis: Julia Maria van Tiel).

Pembicara ahli:
1. Adi D Adinugroho, MA, Ph.D candidate (special educationspecialist, Purdue Universty-USA): Perkembangan dan strategi sistempendidikan anak berbakat

2. Dr Soedjatmiko, SpA, MSi (Kepala Divisi Tumbuh Kembang AnakRSCM/FKUI & Ikatan Dokter Anak Indonesia): Peran dokter tumbuhkembang dalam rangka persiapan sekolah (school readiness) dandeteksi keberbakatan

3. DR. Firman Lubis MPH, dan Dr Indah Aribowo (Ilmu KedokteranKomunitas FKUI): Peran dokter sekolah dalam rangka persiapan sekolah(school readiness) dan deteksi keberbakatan

4. DR.Julia Maria van Tiel (Pembina kelompok diskusi orang tua anak berbakat anakberbakat@yahoogroups.com ): Pengalaman memahami,mengasuh dan pendidikan anak berkekhususan - gifted dengandisinkronitas perkembangan

Pendaftaran:Biaya Rp.175.000,- termasuk 1 buku tentang anak gifted dengandisinkronitas perkembangan. Judul: Anakku terlambat bicara,memahami dan mengasuhnya oleh Julia Maria van Tiel.

Pembayaran melalui rek.BCA 879xxvcb an. Ines Wuri HandayaniTel.021-70134870; 0813 1115 9898Kirimkan bukti transfer melalui fax. 79197354, selambatnya 26 Feb2007

....