Gifted-disinkroni

TENTANG ANAK GIFTED YANG MENGALAMI DISINKRONITAS PERKEMBANGAN - suatu kelompok gifted children - dan bukan merupakan kelompok autisme, ASD, Asperger Syndrome ataupun ADHD - namun anak-anak ini sering mengalami salah terdiagnosa menjadi kelompok anak autisme ringan, ASD, Asperger Syndrom ataupun ADHD

Senin, September 06, 2004

Pendidikan Apa yang Cocok untuk Anak Berbakat?

KOMPAS Minggu, 5 Januari 2003

AKHIR-akhir ini pendidikan anak berbakat mulai ramai kembali dibicarakan. Beberapa sekolah diberi kesempatan sebagai tempat uji-coba program akselerasi, percepatan bagi anak yang cerdas dan berbakat. Buat para orangtua anak berbakat tentu melegakan, karena selama ini anak-anak berbakat tidak mendapat perhatian sebagaimana yang dibutuhkan. Jika melihat teknik penyajian materi, maka program akselerasi ini lebih cocok disebut program pemampatan, anak didik dipaksa terburu-buru mengerjakan semua materi yang terdapat dalam kurikulum. Jika tidak bisa mengikuti tempo yang ditetapkan, maka anak ini akan dikembalikan ke program regular, meski ia ber-IQ sangat tinggi. Ini namanya program sadis dan tidak memecahkan masalah seorang anak berbakat.
Akhirnya, program untuk anak berbakat menjadi sama saja seperti program reguler, hanya pelajarannya di dalam kelas sedikit lebih tinggi daripada anak-anak lain. Diferensiasi bukan pada materi yang diberikan kepada anak berbakat itu, tetapi pada kelas. Secara keseluruhan waktu pendidikan, mereka tetap mendapat materi yang sama, standar nasional.
Jelas anak berbakat tidak bisa dipaksa seperti itu. Mengapa? Karena pada dasarnya anak berbakat adalah anak yang didaktif, ia keras kepala, mempunyai motivasi yang begitu kuat untuk menyelesaikan sesuatu yang menjadi perhatiannya. Seluruh dorongan emosionalnya tercurahkan habis-habisan untuk mencari jawaban berbagai pertanyaan yang terus mengalir tak henti-hentinya di kepala.
Anak berbakat tidak bisa ditahan-tahan. Ia mencari solusi secara kreatif dengan caranya sendiri. Menahan dorongannya hanya akan membuat dia frustrasi dan depresi. Setiap anak berbakat mempunyai minat berbeda-beda, yang di satu materi mampu meninggalkan teman sekelasnya sampai beberapa tahun ke depan. Bahkan ada anak SD yang mampu berpikir bagai mahasiswa dalam satu materi, namun tertinggal di lain materi. Dalam hal pengembangan intelektual ia juga tidak sinkron. Seperti halnya sering terjadi pada perkembangan lainnya, terbanyak tertinggal dalam sosial emosional.
***
YANG menjadi pertanyaan bagi kami para orangtua, sebenarnya para pembuat program ini apakah telah masak-masak memikirkan faktor psikologis dan perilaku anak berbakat? Baik sisi keunggulannya, maupun sisi sulitnya.
Selama ini yang diketahui secara umum tentang anak berbakat adalah anak yang penurut, penuh disiplin, dan mampu melahap segala materi yang diberikan, dan angkanya 10 semua untuk segala mata pelajaran. Ia seperti komputer yang mampu diprogram apa saja.
Kenyataannya anak berbakat adalah anak-anak yang mempunyai perkembangan motorik hebat. Masa kecilnya hanya dilalui dengan loncat kiri-kanan, sehingga di kelas kerjanya hanya jalan-jalan dan mengganggu teman. Untuk mengerjakan materi jika ia tidak berminat, ia tidak akan mengerjakannya.
Mereka keras kepala luar biasa, selalu menentang, dan bersikeras dengan apa yang mereka inginkan. Mereka kaya akan inisiatif, berusaha selalu ingin menolong orang lain, tetapi sulit diperintah.
Bagi anak-anak ini, jangankan ditawarkan untuk percepatan (karena kebiasaan PR-nya tidak dikerjakan), banyak di antara anak-anak ini yang diancam dikeluarkan dari sekolah atau diturunkan kelas. Banyak di antaranya juga yang underachievement, tidak menunjukkan prestasi sebagaimana kapasitas yang dimilikinya. Mereka menjadi frustrasi dan depresi, selain karena selalu dipaksa dan dihukum, keinginannya sering ke mana-mana ke materi-materi lain, bahkan sering jauh dari apa yang ditawarkan pihak sekolah. Belum lagi jika pergi ke dokter atau ke psikolog, dianggap sakit mental atau anak bermasalah. Lengkaplah penderitaannya.
***
AMBIL saja contoh bagaimana seorang anak berbakat mengembangkan intelektualitasnya. Syarat yang dapat dikatakan anak berbakat adalah jika anak ini mempunyai kemampuan analisis yang tinggi, ingatan yang kuat dan tajam, mempunyai intuisi sangat tajam, mampu secara kreatif dan mandiri membuat solusi, perfeksionis, dan mempunyai motivasi hebat. Bahkan, mereka ini memiliki memori verbal dan memori performal yang nyaris perfek. Bisa salah satu atau keduanya.
Perkembangan intelektualitasnya loncat ke muka dibandingkan sebayanya. Tidak heran banyak di antara mereka pada usianya yang ke tiga sudah mampu membaca dengan cara mengutak-atik logo dan iklan televisi, berhitung bahkan kali bagi tambah kurang dan akar-akaran. Tanpa diajari. Sehingga belum waktunya sekolah ia sudah mampu membaca dan segera melalap berbagai bacaan.
Kemampuan analisisnya terhadap fenomena alam membuatnya segera paham akan berbagai hukum-hukum fisika dan alam. Dengan begitu apa yang dicarinya saat di bangku sekolah muatannya sungguh berbeda dari anak-anak cerdas atau anak-anak normal. Ia membutuhkan materi yang penuh tantangan analisis.
Selain ia dilatarbelakangi oleh motivasi dan keingintahuannya yang besar yang tak pernah putus dan tak ada ujungnya, dia juga dilatarbelakangi emosi guna pemenuhan tuntutan keinginannya itu. Seringkali dia tak bisa ditahan atau dialihkan dengan menawarkan materi lainnya sesuai dengan kurikulum. Ia sangat mudah menangkap berbagai hal yang menjadi perhatiannya, tetapi sangat sulit untuk diajari jika memang tidak tertarik, apalagi yang sifatnya menghafal. Ia tidak bisa dipaksa tetapi bisa distimulasi.
Mengerti akan perkembangan yang unik dan sangat individual ini agaknya merupakan kunci keberhasilan membimbing anak-anak semacam ini. Tuntutan bukan hanya ditujukan kepada pihak orangtua saja, tetapi juga guru dan pembimbing lainnya. Dukungan lingkungan akan kebutuhan anak, memberi anak keleluasaan gerak dan sarana menjadi prasyarat baginya.
Minggu depan akan dibahas bagaimana Belanda menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak berbakat, sebagai bahan perbandingan bagi kita di Tanah Air. *

Julia Maria van Tiel orangtua anak berbakat
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0301/05/keluarga/pend21.htm

....