Gifted-disinkroni

TENTANG ANAK GIFTED YANG MENGALAMI DISINKRONITAS PERKEMBANGAN - suatu kelompok gifted children - dan bukan merupakan kelompok autisme, ASD, Asperger Syndrome ataupun ADHD - namun anak-anak ini sering mengalami salah terdiagnosa menjadi kelompok anak autisme ringan, ASD, Asperger Syndrom ataupun ADHD

Jumat, Januari 15, 2010

THE EINSTEIN SYNDROME

THE EINSTEIN SYNDROME
APA, SIAPA DAN BAGAIMANA


Julia Maria van Tiel
Pembina komunitas mailinglist anakberbakat@yahoogroups.com
Disajikan dalam Seminar Online “Mari kita Bicara Tentang Kecerdasan”
Tanggal 2 – 4 November 2009







Kecerdasan adalah hal yang diturunkan secara genetik yang memerlukan stimulasi dan intervensi agar teraktualisasi menjadi prestasi yang sesuai dengan kapasitas yang dapat diharapkan (Nature + Nurture). Genetik adalah blue print perkembangan yang tak dapat diubah. Sekalipun kecerdasan ditentukan secara genetik, dan pembawa sifat kecerdasan berada dalam gen, namun potensi kecerdasan dapat diukur melalui tes IQ yang culture free. Alasan yang mengatakan bahwa kecerdasan berada di dalam gen sehingga tidak dapat diukur untuk kemudian muncullah anjuran-anjuran stimulasi dini tanpa melihat bagaimana potensi bawaan, justru hanya akan menyeret kita pada tindakan yang berlebihan pada anak. Disamping itu bagaimana potensi kecerdasan anak, masih dapat kita telusuri melalui observasi tumbuh kembangnya. Dengan demikian kita dapat memberikan stimulasi yang sesuai dengan potensi dan yang dibutuhkan anak.



Pendahuluan
Dalam dekade terakhir ini, kita banyak sekali menerima informasi tentang orang-orang jenius yang dikabarkan menderita gangguan perkembangan majemuk Autisme, antara lain Einstein, Thomas Alfa Edison, Michael Angelo, dan lain-lain.
Namun sebaliknya juga banyak yang mengaguminya sebagai individu luar biar biasa yang mempesona. Begitu terpesonanya kita pada karya-karya mereka, maka publikasi pun tak sungkan-sungkan menawarkan tentang bagaimana agar anak kita mengikuti jejak orang-orang jenius itu. Tawaran itu misalnya dengan mengatakan: cara mudah membuat anak jenius; cara praktis mencetak anak cerdas; berpikir ala jenius; sedikit autisme akan menguntungkan (menjadi jenius). Tetapi karena adanya publikasi sebagai autisme seringkali muncul pertanyaan yang meragukan untuk mengikuti jejak Einstein, daripada menjadi individu jenius tetapi penyandang autisme, lebih baik tidak saja.
Sebaliknya lagi, banyak orang tua yang mendapatkan diagnosa autisme justru bangga, yang mana kebanggaannya ini karena sudah salah mendapatkan informasi yang menyesatkan bahwa penyandang autisme jika diterapi dengan baik, tepat, dan telaten, maka ia akan menjadi anak jenius.
Namun tak dapat disangkal pula, banyak orang tua yang enggan dan malu jika anaknya yang menyusahkan dan bahkan tak berprestasi untuk menerima identifikasi bahwa anaknya mempunyai potensi giftedness. Akibatnya saat mana anak membutuhkan penanganan yang dibutuhkan, ia tidak mendapatkannya.
Sekalipun terdapat kontroversial, area mencerdaskan anak (jika perlu seperti Einstein) ini juga sangat laku di pasaran. Sebagian dari orang tua tergila-gila oleh tawaran ini. Bahkan tawaran ini dilengkapi pula dengan tawaran buku-buku, flaschcard, CD ROM interaktif, dan tak tanggung-tanggung, dilakukan sejak bayi. Kelompok ini dalam area pendidikan anak seringkali disebut kelompok The Prodigy Maker.


The Einstein Syndrome, siapa dia?
Istilah The Einstein Syndrome dipopulerkan oleh Thomas Sowell, seorang jurnalis terkenal dari Amerika yang mempunyai anak terlambat bicara tetapi mempunyai kecerdasan luar biasa, dan sangat kreatif dalam berbagai bidang seni. Tetapi anaknya mendapatkan diagnosa sebagai anak penyandang autisme. Ia membangun kelompok orang tua dengan anak-anak yang mempunyai gejala yang sama dengan anaknya. Disana ia menemukan hampir semuanya mendapatkan berbagai diagnosa sebagai anak-anak bergangguan. Namun saat anak-anak ini berusia 6 tahun dan masuk sekolah dasar mereka keluar dari kriteria diagnosa. Bersama Steve Camarata seorang Professor dari Department of Hearing and Speech Sciences Vanderbilt University mereka melihat kembali anak-anak dengan diagnosa autisme itu, ternyata anak-anak ini memang bukan kelompok anak autisme tetapi anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa murni. Camarata menyebutnya sebagai Natural Late Talker.
Agar lebih jelasnya apa yang dimaksud oleh Thomas Sowell sebagai The Einstein Syndrome dapat kita baca dalam kotak di bawah ini


BACA LEBIH LANJUT DISINI .....

....