Gifted-disinkroni

TENTANG ANAK GIFTED YANG MENGALAMI DISINKRONITAS PERKEMBANGAN - suatu kelompok gifted children - dan bukan merupakan kelompok autisme, ASD, Asperger Syndrome ataupun ADHD - namun anak-anak ini sering mengalami salah terdiagnosa menjadi kelompok anak autisme ringan, ASD, Asperger Syndrom ataupun ADHD

Kamis, Januari 08, 2009

Sekolah Inklusi?

SEKOLAH INKLUSI ?


--- In cfbe@yahoogroups.com, "segaintil" wrote:

Ibu Herlina YTH,

Saya sendiri tidak menutup mata dan tidak menganggap secara negatip
perkembangan berbagai sekolah yang kini semakin banyak menerima murid
ABK untuk duduk bersama dengan murid-murid lain dalam kelas, dan
belajar bersama-sama. Bahkan pihak Diknas pun akan memberikan bantuan
kepada sekolah-sekolah yang melaksanakan inklusi, baik dalam bentuk
subsidi biaya bantuan, ataupun uluran bimbingan.

Namun, apa yang saya lihat di lapangan, dengan kenyataan tujuan dan
cita-cita dari jiwa pemahaman keanekaragaman murid itu yang masih
jauh dari harapan. Sebagai contoh, (diskusi ini awalnya diskusi saya
dengan pak Muchlis yang mengatakan bahwa kurikulum dari puskur cukup
satu dan digunakan untuk semua anak. Jika ada anak yang tidak dapat
mengikuti kurikulum itu, maka harus dipisah dari dalam kelas. Saya
mengatakan bahwa hal itu justru bertentangan dengan prinsip sekolah
inklusi yang kini semakin digalakkan karena merupakan seruan dari
Unesco agar kita menghormati hak azazi anak dan keragaman murid).

Akibat dari ketidaktersediaannya kurikulum (diferensiasi kurikulum)
dalam melaksanakan pendidikan inklusi itu, maka yang terjadi
dilapangan adalah, semua anak diwajibkan mengikuti UAN. Padahal jika
memahami jiwa keanekaragaman murid, maka tidak semua anak akan bisa
lulus dari UAN. Terutama anak-anak yang mempunyai gaya berpikir beda,
atau anak-anak yang mempunyai kesulitan belajar maupun gangguan
belajar. Jadi perlu diberi jalan keluar yaitu dengan menggunakan
sistem pendidikan berbasis kompetensi. Padahal sementara itu
penerapan KBK yang ada di Indonesia ini justru tidak mengacu pada
keragaman murid, tetapi mengacu pada pasaran kerja/vocational (asal-
asalnya) yang kemudian diterapkan di SD yang akhirnya tidak cocok.
Sekalipun menurut Pak MUchlis sudah berbasis kompetensi menurut
versinya (mohon koprek lagi email sebelum ini).
Jadi saya mengatakan bahwa KBK versi puskur dengan kenyataan di
lapangan (dimana dunia kini ke arah pendidikan inklusi) sama sekali
tidak cocok.

Direktorat pembinaan sekolah luar biasa sendiri setuju jika anak-anak
ABK tidak perlu mengikuti UAN, asalkan jelas kmptensinya. Tetapi hal
ini tentunya tergantung dari si Puskur yang berwenang menentukan
kurikulumnya. Jadi ini kayak-kayaknya yang memang musti diubyek
ubyek memang Puskur nya. Selain para ahli kependidikan berkekhususan
(orthopedagog)yang hingga kini tidak membuatkan pedoman-pedoman
penanganan pendidikan anak-anak ABK.

Dimana ada protokol asesmen anak ABK secara psikologi-pedagogi? Tidak
ada.
Dimana ada penyediaan kurikulum bagi anak-anak dengan kebutuhan
khusus yang standar Diknas? Tidak ada.
Bagaimana jalan keluarnya jika seorang anak ternyata tidak akan bisa
mengikuti UAN? tidak ada.

Jadi pelaksanaan sekolah inklusi ini sekalipun sudah tinggi
semangatnya, dan sudah banyak anak-anak yang bisa diterima di sekolah-
sekolah, tetapi sifatnya sporadis. Kebanyakan (umumnya) yang menerima
adalah sekolah swasta yang memang bisa fleksibel, tetapi bayarnya
mahal luar biasa.

Bagaimana perasaan Anda-anda jika harus berdiskusi dengan para orang
tua anak berkebutuhan khusus itu? Jika tidak mempunyai uang untuk
sekolah bahkan terapi dan bimbingan remedial (yang justru malah anak-
anak ini dijadikan sapi perahan komersial).
Jika pun sudah bisa masuk sekolah, tetapi sistem pendidikan -
pengaturannya tidak ada kejelasan dan tidak standar, lalu dipaksakan
ikut UAN tapi jelas-jelas tidak lulus.

Sehingga terjadi kasus-kasus, saat anak itu menjelang masuk tahun ke
enam, dianjurkan pindah sekolah sebab kalau ikut UAN tidak lulus bisa
menurunkan prosentasi kelulusan. Apakah ini manusiawi?

Suatu kali saya mengunjungi sebuah sekolah inklusi, malah sekolah ini
menjadi percontohan. Aduh mak, saya mengelus dada trenyuh. Yang patut
saya acungi jempol adalah semangat guru yang bersedia membantu.
Tetapi suatu kali saya bertemu dengan seorang konsultan asing yang
mengunjunginya juga, saya tanya, bagaimana? Beliau menjawab: Aduh...
saya tidak bisa membantu, sebab kalau saya harus membantu, saya harus
membongkar semua sistem yang ada di sekolah itu...saya angkat tangan.

Saya bisa memahaminya.
Pendidikan dengan pendekatan individual...sudah salah dimengerti.
Dalam kelas itu duduklah sebanyak 40 murid empet-empetan.
Sebagiannya, 17 anak ABK yang masing-masing punya shadow teacher.
Jadi kelas itu isinya 57 plus 1 guru dengan 2 pendampingnya. 60 dalam
satu kelas? Gurunya pakai TOA (loudspeaker).

Apanya yang inklusi kalau begini? pendidikan pendekatan individual
dipahami sebagai one by one. Semua anak mengerjakan pekerjaan yang
sama, lalu yang ABK ditangani/dibantu one by one oleh si shadow
teacher. ya salah dong pemahamannya. ya ini sama juga bukan inklusi,
dimana inklusi adalah pendidikan yang adaptif, dan kurikulum
berdiferensiasi. Ini sama saja dengan pendidikan konvensional, dimana
anak ABK dicampur, hanya saja ditolong. Salah! Semangat berinklusi
saja tidak cukup, kalau justru orang tua sudah memberi kepercayaan,
tetapi salah penanganan, ini namanya bukan hanya mubajir, tetapi
semacam bentuk penipuan pendidikan (tapi tidak disadari). Sebab si
anak tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pendidikan yang
sebaik-baiknya yang sesuai dengan kondisinya, tetapi dipaksakan tetap
mengikuti yang konvensional, hanya saja mendapatkan sedikit
pertolongan. Yang salah bukan sekolahnya, tetapi pihak perguruan
tinggi yang seharusnya menjadi sumber pembimbing sekolah-sekolah agar
jalannya bener. Pihak pergurun tinggi pulalah yang menjadi konsultan-
konsultan baik ditingkat departemen maupun sekolah-sekolah, tapi
ngawur, ya percuma. Gak ketinggalan ya Puskurnya.

Salam,
Julia Maria van Tiel
http://gifted-disinkroni.blogspot.com/


--- In cfbe@yahoogroups.com, Herlina David allegrodavid@ wrote:
>
> bapak-ibu ikutan ya,
> maaf jika saya hanya paham bahwa semua butuh proses.
> saat ini meski dengan minim pengetahuan, minim aksesibilitas dan
sangat minim dalam pengalaman serta sangat tidak gampang
melaksanakannya, saya sangat salut dan mendukung para Guru Pembimbing
Khusus dan sekolah-sekolah yang membuka diri bagi pendidikan inklusi.
apapun kendala dan minimnya pengetahuan guru, Indonesia memang sedang
menuju pendidikan inklusi.
> Dinas Pendidikan juga bukannya "merem" tapi telah memberikan
dukungan dengan kerjasama dengan banyak LSM. dibandingkan awal tahun
2003 lalu, saat ini sudah jauh lebih banyak anak-anak berkebutuhan
khusus mendapatkan kesempatan lebih terbuka untuk belajar bersama
dengan anak-anak lain disekolah umum.
> saya bangga para pendahulu kita telah memikirkan ini (yang sekarang
disebut-sebut pddk inklusi) lihat saja UUD 45 pasal 31 : tentang
Pendidikan Nasional  bagi seluruh bangsa Indonesia.
> maju terus pendidikan Indonesia.
>
> wassalam, HK
>
>
>
> ________________________________
> Dari: Sam Igus gurustm@
> Kepada: cfbe@yahoogroups.com
> Terkirim: Kamis, 8 Januari, 2009 10:57:24
> Topik: Re: [cfbe] Sekolah inklusi ....Re: Konsep,... hati nurani
dll (mbak Julia & p'Muchlis)
>
>
> Bu Julia:
> tawaran pendidikan harus fit dengan kondisi anak, bukan sebaliknya
murid
> harus mampu menyesuaikan dengan tawaran pendidikan sebagaimana
> pendidikan kovensional.
>
> Sam Igus: Bu Jula, mungkin pernyataan itu berlaku utk dikdasmen
yang masih wajar ya (K - 12). Utk voced mungkin pernyataannya musti
dibalik.
> Â
> Bener ngak ya?
> Â
> Â
> Sam
>
> --- On Wed, 1/7/09, segaintil segaintil@yahoo. com> wrote:
>
> From: segaintil segaintil@yahoo. com>
> Subject: [cfbe] Sekolah inklusi ....Re: Konsep,... hati nurani dll
(mbak Julia & p'Muchlis)
> To: cfbe@yahoogroups. com
> Date: Wednesday, January 7, 2009, 6:36 PM
>
> Dear Pak Sapto,
>
> Salam kenal ya Pak.
> Saya sangat setuju pendapat Bapak, bahwa guru masa kini dan masa
> depan adalah guru yang mempunyai tantangan luar biasa. Karena
seruan
> Unesco dalam deklarasi Salamanca 1994 memang merupakan amanah yang
> mau tidak mau harus diemban setiap guru, yaitu mewujudkan hak azazi
> setiap anak untuk menerima pendidikan yang sebaik-baiknya. Jiwa
> deklarasi itu adalah sebetulnya dalam rangka mengangkat perubahan
> filosofi pendidikan ke arah pemahaman keanekaragaman murid.
>
> Jika dahulu kita menganggap bahwa semua murid dalam satu kelas
> dianggap sama dan dituntut untuk mencapai tujuan pendidikan yang
> sudah ditentukan, maka dengan pemahaman terhadap keanekaragaman
murid
> itu dengan sendirinya tujuan pendidikan menjadi fleksibel.
Bagaimana
> pencapaian tujuan itu tergantung dari muridnya, karena itulah bukan
> lagi lagi content based curriculum tetapi competence based
> curriculum. Kurikulumnya disesuaikan dengan kondisi si murid. Baik
> materi maupun metodanya. Dengan begitu pendidikan model ini kini
> disebut pendidikan yang adaptive (adaptive education). Dimana
tawaran
> pendidikan harus fit dengan kondisi anak, bukan sebaliknya murid
> harus mampu menyesuaikan dengan tawaran pendidikan sebagaimana
> pendidikan kovensional.
>
> Indonesia masih dalam masa transisi ke arah ini. Sementara negara-
> negara maju di eropa, bahkan negara tetangga seperti australia dan
> new zealand sudah melaksanakannya secara menyeluruh. Di Belanda
> disebut onderwijs op maat, di Amerika dalam strategi pendidikan No
> Child left behind.
>
> Tidak gampang memang untuk melaksanakan hal ini. Sebab, sejak awal
si
> anak harus diases dahulu agar pihak sekolah dapat menentukan metoda
> dan materi pendidikan seperti apa yang dapat diterimanya.
>
> Namun pemahaman dan model sekolah inklusi di Indonesia sendiri
masih
> acakadut. Agak pusing juga saya mengikutinya. Karena Indonesia
tengah
> belajar dan mencontohnya dari model2 dibanyak negara. Awalnya dari
> Norwey yang full inclusion, dimana semua anak mulai dari yang
> parahhingga anak gifted berada di dalam satu kelas, sehingga level
> kompetensinya bisa sampai 7 level.... Nah yang model begini memang
> guru bisa kelabakan setengah mati.
>
> Sementara itu di beberapa negara eropa lainnya, seperti jerman,
> perancis, belgia, belanda, menggunakan dua model pendekatan: masih
> ada sekola luar biasa, ada sekolah khusus, dan sisanya sekolah
> inklusi yang muridnya dibatasi untuk murid-murid dengan inteligensi
> normal ke atas namun mempunyai kesulitan belajar (learning
> difficulties seperti terlambat bicara, ADHD, autisme, ataupun
> gangguan lainnya) dan juga yang mengalami learning disabilities
> (dislekais, diskalkulia dan disgrafia.
>
> Sedang di Indonesia ini engga jelas batasnya, inklusinya mau kayak
> apa, karena yang membuat peraturan juga masih bingung sendiri. Lalu
> karena di lapangan gak ada onsep operasionalnya, yang ada cuma
konsep
> filosofinya saja, maka terjadilah keanekaragaman bentuk.
>
> Saya rasa High Scope sebagai sekolah terdepan dalam bentuk ini bisa
> membuat sebuah pedoman yang dibuat sendiri untuk sekolah High Scope
> se ndiri, yang kemudian bisa dicontoh oleh sekolah sekolah lainnya.
>
> Menunggu para pakar untuk membuatkannya, kita bisa macam menunggu
> godhot. Karena saya yang mengikuti dan terjun bersama-sama dengan
> para pakar di tingkat yang paling tinggi sekalipun, musti sabar-
sabar
> mengikutinya.
> Sebab untuk menyusun berbagai kosep sendiri, si para pakar itu
> sendiri sering masih gak sepakat dengan sebuah konsep dasar.
> Contoh simpel: apa pengertian inteligensi? Bagaimana mengukurnya?
Nah
> ini memahami dan membuat konsepnya pada bisa kesasar sasar kesegala
> arah yang engga-engga. Karena apa? Sistem pendidikan kita di
> universitas masih kecepretan ilmu-ilmu pseudoscience. ... Lha dunia
> mainstream sudah menetapkan menggunakan pengukuran pemahaman
> inteligensi dengan teori yang sudah disepakati oleh dunia ilmiah
> yaitu menggunakan pemahaman kognitif dari Piaget, ini kok di
> Indonesia bisa pakai yang enga-engga.. .sampai saya eneg banget
> ngeliatnya.
> Bukan neurolog mau jadi sok kayak neurolog dengan mengatakan
> misalnya: otak kiri dan kanan harus seimbang (kalau iya, bisa jadi
> orang gila deh nih anak-anak), harus selaras antara IQ,MI, EQ,SQ
> (jelas kelihatan kalau yang mengusulkan gak pernah belajar serius
> tentang pemahaman inteligensi) , otak kiri adalah IQ dan otak kanan
> adalah MI (pernyataan ini lebih menceng lagi padahal yang
menyatakan
> ini seorang doktor ahli kependidikan) ....
>
> Sorry pak hhehe...
>
> Secara proporsional sebetulnya dunia pendidikan inklusi selayaknya
> harus dikuasai oleh para ahli kependidikan kekhususan
(orthopedagog)
> bersama-sama dengan psikolog perkembangan dan pendidikan, jadi
bukan
> oleh psikolog semata. Hingga saat ini dunia kependidikan kekhususan
> di Indonesia justru engga memnguasai bagaimana strategi pendidikan
> untuk anak-anak yang akhir-akhir ini oleh pihak kedokteran sudah
> mulai terdeteksi sebagai anak-anak yang membutuhkan pendidikan
> khsusus seperti misalnya autisme, ADHD, ADD, CD,ODD, gifted visual
> spatial learner, LD, NLD, SLI,CAPD, dlsb.... Tapi pihak perguruan
> tinggi yang mencetak ahli pendidikan cuma mampu untuk anak-anak
> berkekhususn cacat primer seperti: bisu -tuli - buta - tunagrahita
> sudah...bahkan dijadikan penjurusan keahlian. Sehingga bentuk-
bentuk
> kekhususan yang nonkontingen di perguruan tinggi kependidikan gak
ada
> tempatnya untuk dipelajari.. .. apa engga runyam ?
> seharusnya jika pihak kedokteran bisa mendeteksi kekhususan, maka
> harus diikuti oleh perkembangan kependidikannya. Lha ini dari
dokter
> langsung diserahkan ke guru kelas dengan diagnosa dokter, ya pihak
> sekolah bisa mabuk mabuk....
>
> Salam,
> Julia Maria van Tiel
> http://gifted- disinkroni. blogspot. com/
>
> --- In cfbe@yahoogroups. com, sapto sugiharto

> wrote:
> >
> >
> > Memang Guru2 sekarang punya tantangan semakin besar ya. Saya juga
> merasakan bagaimana harus menghadapi dan mengelola SOP untuk
sekolah
> Inklusi sejak saya bekerja di Sekolah High/Scope Indonesia (tahun
> 2002) dan sampai sekarang masih terus harus belajar dan memperbaiki
> sistem dan pola manajemen penanganan pelayanan anak berkebutuhan
> khusus. Bahkan seiring perkembangan kami juga harus memantau dan
> melayani anak-anak dengan masalah yang sebelumnya tidak terdeteksi
> ketika mereka masuk. Dan pada dasarnya anak-anak mainstream juga
> perlu dikondisikan untuk menjadi bagian positif dari sekolah
inklusi
> ini.
> > Kami sangat perlu kajian teori dan penelitian lapangan dari pakar
> psikologi agar kami dapat menjadikannya sebagai "manual" dalam
> menjalankan konsep sekolah inklusi ini. Pedoman ini yang kami
rasakan
> masih sangat terbatas untuk konteks Indonesia.
> > Â
> > trims.
> > Sapto Sugiharto
> >
> >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
_____
> Dapatkan nama yang Anda sukai!
> Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan
@rocketmail.com.
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

--- End forwarded message ---

....


 

 

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda