Gifted-disinkroni

TENTANG ANAK GIFTED YANG MENGALAMI DISINKRONITAS PERKEMBANGAN - suatu kelompok gifted children - dan bukan merupakan kelompok autisme, ASD, Asperger Syndrome ataupun ADHD - namun anak-anak ini sering mengalami salah terdiagnosa menjadi kelompok anak autisme ringan, ASD, Asperger Syndrom ataupun ADHD

Senin, Maret 19, 2007

Pendidikan Anak Berbakat Perlu Pembaharuan

Pendidikan Anak Berbakat Perlu Pembaharuan

Menyambut seminar Deteksi dan Pendidikan Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (Gifted & Talented Children) 3 Maret 2007 dari Kelompok Diskusi Orang Tua Anak Berbakat bersama Dit PSLB Mandikdasmen Depdiknas RI.

OlehJulia Maria van Tiel


JAKARTA - Kini, dengan masuknya anak berbakat (gifted child) dalam kelompok anak berkebutuhan khusus di bawah naungan Dit.PSLB Dirjen Mandikdasmen Depdiknas, bisa kita bayangkan bahwa kelak pengembangan pendidikannya memerlukan banyak perubahan. Dapat dibayangkan pula, tugas pengembangan ini bagi sektor pendidikan nasional bukanlah tugas yang ringan. Perubahan dan pembenahan bukan hanya akan menyangkut pada pengembangan pendidikan anak berbakat namun juga seluruh anak-anak berkebutuhan khusus yang kini menjadi semakin beragam karena semakin detilnya pemeriksaan perkembangan anak. Penelitian dan teori yang dikembangkan dalam area berkekhususan juga kini semakin pesat, yang akan menuntut aplikasinya di lapangan (sekolah, rumah, lembaga stimulasi-intervensi dan remedial teaching) diperlukan penyegaran dan pembaharuan. Metoda pendekatan dan pembelajaran juga akhirnya perlu ada perubahan, dan semakin beragam pula.Perubahan yang paling darurat adalah perlunya dibentuk lembaga yang mampu menjadi pilar pendidikan berkekhususan, yang mampu membantu guru dan orang tua agar ia mampu memahami anak yang akan duduk di bangku sekolah. Lembaga ini merupakan lembaga bantuan pedagogi dan psikologi bagi guru dan orang tua, yang disebut psychoeducational assessments center.

Setiap anak yang terdeteksi oleh dokter tumbuh kembang jika mempunyai penyimpangan perkembangan, perlu mendapatkan layanan oleh lembaga ini, agar guru dan orang tua dapat memberikan cara-cara pendidikan yang sesuai bagi kekhususannya. Selama ini, andai kita menghadapi seorang anak dengan diagnosa dari dokter misalnya psikiater, ia akan langsung dimasukkan ke sekolah dengan diagnosa dokter, tanpa melihat berbagai prasyarat kesiapan sekolah (school readiness) sudah dipenuhi anak. Seringkali guru menerima kriteria gangguan yang merupakan acuan dokter, bukan kriteria pedagogi, yang tidak bisa diterapkan di dalam kelas untuk mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung.

Dengan adanya bantuan pedagogi dan psikologi dari lembaga tersebut apabila sekolah menerima seorang anak, diagnosa dokter harus diterjemahkan oleh lembaga tersebut agar lebih aplikatif di dalam kelas. Bila didapatkan si anak belum memenuhi prasyarat kesiapan menerima pembelajaran, maka guru bersama guru remedial dan orang tua dengan bantuan lembaga tersebut dapat melakukan upaya-upaya intervensi pedagogi-psikologi agar si anak dapat memulai menerima pembelajaran di kelas. Guru juga dapat dibimbing melakukan pendekatan dan menggunakan metoda pembelajaran apa yang paling tepat bagi anak didiknya.Lembaga ini tak kan mungkin berdiri tanpa adanya bantuan dokter sekolah yang meneruskan pekerjaan dokter tumbuh kembang mengawasi perkembangan anak-anak sekolah, serta membantu orang tua melakukan upaya konsultasi ke pusat-pusat kesehatan yang lebih tinggi jika hal itu dibutuhkan.

Artinya disini bahwa pengembangan pelayanan keberbakatan akan memerlukan kerjasama berbagai lintas : keilmuan, program antara sekolah reguler dan berkekhususan, serta lintas departemen yaitu departemen pendidikan dan kesehatan. Masuknya anak berbakat (gifted chlid) dalam sekolah reguler sebagai anak berkekhususan yang membutuhkan dua layanan sekaligus (kesulitan dan keberbakatan), disamping anak-anak berkekhususan lain, maka terjadilah diferensiasi metoda pengajaran dan materi yang diberikan. Situasi ini akan mendorong sistem pendidikan nasional pun membutuhkan perubahan yang drastis. Diperlukan pendekatan pendidikan yang lebih competence-based-curriculum daripada content-based-curriculum, dimana setiap anak akan menempuh pendidikannya dalam kompetensinya masing-masing.

Guru masa depan adalah seorang guru yang bukan saja mempunyai kemampuan mengajar bidang studinya, tetapi juga guru yang memahami tumbuh kembang anak-anak. Terutama bagi guru taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Tak kurang pula pendidikan dokter dan psikologi diperlukan perubahan agar lebih memahami kebutuhan anak dan mendukung kesiapan anak menerima pembelajaran.

Dapat disimpulkan disini bahwa perubahan itu akan berupa: Pertama, perubahan di tingkat manajemen pendidikan secara menyeluruh, artinya bukan hanya bagi pendidikan anak berbakat tetapi perubahan sistem pendidikan anak berbakat dengan sendirinya akan merubah sistem secara keseluruhan. Kedua, perlu dibangun suatu sistem kerja yang lintas departemen (pendidikan dan kesehatan) serta lintas sektor pendidikan (sekolah reguler dan sekolah berkekhususan). Ketiga, perubahan pada sistem kesehatan nasional, dimana perlu dibentuk adanya formasi baru yang community based, yaitu dokter tumbuh kembang yang memeriksa seluruh anak-anak Indonesia, saat anak tersebut sudah duduk di sekolah. Keempat, perlu dibangun lembaga psychoeducational assessment center, yang merupakan pilar penting pendidikan anak berkekhususan. Kelima, perubahan kurikulum pendidikan profesi yang berkaitan dengan masalah pendidikan dan tumbuh kembang anak. Perubahan ini tentu saja memerlukan perencanaan jangka panjang dan matang, namun tidak dilupakan bagaimana mengatasi segera masalah anak-anak gifted yang mengalami disinkronitas perkembangan yang selama ini tidak mendapatkan sekolah dimana-mana. n

Penulis adalah pembina kelompok diskusi Grup Anak Berbakat



Copyright © Sinar Harapan 2003
www.sinarharapan.co.id/berita/0702/23/ipt03.html

....


 

 

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda