Gifted-disinkroni

TENTANG ANAK GIFTED YANG MENGALAMI DISINKRONITAS PERKEMBANGAN - suatu kelompok gifted children - dan bukan merupakan kelompok autisme, ASD, Asperger Syndrome ataupun ADHD - namun anak-anak ini sering mengalami salah terdiagnosa menjadi kelompok anak autisme ringan, ASD, Asperger Syndrom ataupun ADHD

Minggu, Februari 18, 2007

Perlu Memahami Anak Berbakat

Perlu Memahami Anak Berbakat
OlehJulia Maria van Tiel

Menyambut seminar Deteksi dan Pendidikan Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (Gifted & Talented Children) 3 Maret 2007 dari Kelompok Diskusi Orang Tua Anak Berbakat bersama Dit PSLB Mandikdasmen Depdiknas RI.

JAKARTA - Banyak pengalaman yang sudah dicatat oleh ahli-ahli keberbakatan di negara maju di Eropa dan Amerika, sejak bayi anak-anak berbakat telah menunjukkan karakteristik sebagai bayi gifted. Ia mempunyai perkembangan yang sangat cepat dengan kapasitas yang besar, ditandai antara lain banyak gerak, sangat alert, dan banyak menuntut perhatian misalnya mudah dan selalu menangis, serta keras kepala jika kemauannya tidak dituruti. Kesulitan pengasuhan mulai datang saat anak berusia 2–3 tahun. Orang tua selalu mengeluh terlalu lelah dan tak punya waktu lain karena harus mengawasi dan melayani anaknya yang banyak gerak, tidur hanya sedikit sekali, loncat kian kemari, tukang membongkar, banyak maunya, hanya ingin mengikuti kemauannya sendiri, keras kepala, dan sulit diatur. Perilaku ini seringkali disalah mengerti sebagai perilaku membangkang yang pada akhirnya masuk ke dalam perilaku bermasalah. Anak-anak ini sering disarankan diberi terapi perilaku agar bisa berlaku normal, namun justru akan membawanya ke dalam permasalahan yang lebih parah. Bukan hanya masalah emosional dan sosial, tetapi juga munculnya penyakit-penyakit psikosomatik seperti sakit perut, sakit kepala, kefrustrasian, dan kondisi depresi. Akhirnya potensi luar biasa keberbakatannya tak terpupuk, bahkan ia harus melewati hari-hari yang kurang sehat dan tidak aman secara psikologis.

Melihat ini dibanyak negara, kini anak ini harus dideteksi dini, dan dikelompokkan ke dalam kelompok anak berisiko. Ia menjadi anak dengan kebutuhan khusus. Orang tua mendapatkan bimbingan untuk memahami bagaimana tumbuh kembang, karakteristik dan personalitasnya, serta cara-cara pengasuhan yang sehat yang sesuai dengan pola tumbuh kembang maupun personalitasnya. Orang tua harus bekerjasama dengan para guru, agar antara pengasuhan di rumah dan pendidikan di sekolah dapat simultan, karena bisa jadi ia membutuhkan percepatan belajar, pengkayaan, sekaligus juga pendalaman, yang terkadang hanya mungkin dikembangkan di luar sekolah atau di rumah. Disamping juga membantu guru melakukan remedial teaching untuk mengatasi kesulitan belajarnya.

Selain tugas pengasuhan orang tua juga masih dituntut memenuhi tuntutan kebutuhan si anak yaitu untuk mewujudkan dorongan internalnya mengembangkan potensi inteletual serta bakat lainnya seperti musik, menggambar, atau olah tubuh.Tumbuh kembang anak gifted, diakui oleh banyak ahli, mempunyai perkembangan yang sangat krusial, unik, dan sering terjadi ketidak sinkronan atau ketidak selarasan perkembangan, antara lain dalam perkembangan emosional, sosial, sensoris, motorik, bahasa dan bicara. Ketidak sinkronan perkembangan ini akan berakibat juga bahwa kelak anak tersebut mengalami kesulitan belajar. Ia sangat cerdas tetapi juga mengalami kesulitan.Untuk ini orang tua juga dituntut untuk memahami hal ini semua agar ia dapat membantu si anak mencapai tingkat perkembangan yang lebih harmonis. Kesalahan akan memunculkan masalah-masalah baru yang sulit rehabilitasinya.Untuk memahami ini semua, orangtua dan guru harus banyak membaca, berdiskusi, dan tak kalah penting pula harus ada tenaga ahli yang membimbingnya, agar ia tidak melakukan pengasuhan dengan cara meraba-raba atau menggunakan bentuk stimulasi dan intervensi kelompok anak berkebutuhan khusus lainnya yang tentu saja tidak akan sesuai.

Sebagian orang tua justru merasa malu mengakui anaknya mempunyai potensi gifted. Pandangan masyarakat umum maupun pihak professional bahwa gifted adalah bukan masalah tetapi suatu perkembangan yang positif, yaitu perkembangan kognitif (inteligensia) tanpa melihat lagi kemungkinan-kemungkinan lain yang menyertainya. Mengakui anaknya seorang anak berbakat (gifted) dapat dipandang sebagai perilaku berlebihan yang mengarah arogan. Banyak orang tua akan lebih memilih hanya mengatasi masalahnya, dan mengesampingkan potensi keberbakatan yang dapat menjadi masalah.

Sebaiknya pandangan tadi haruslah segera diubah ke arah melihat faktor keberbakatan (giftedness) sebagai salah satu faktor dalam berbagai dimensi perkembangan anak. Kita semua selain harus menerima perkembangan kognitifnya yang luar biasa itu, perlu juga memahami bagaimana sebenarnya tumbuh kembang dan personalitasnya, agar ia dapat kita terima sebagaimana adanya. Tak kurang pula memberinya toleransi yang lebih besar dalam kesulitan perkembangannya. n

Penulis adalah pembina kelompok diskusi Grup Anak Berbakat



Copyright © Sinar Harapan 2003 http://www.sinarharapan.co.id/berita/0702/16/ipt04.html

....


 

 

Rabu, Februari 14, 2007

Tinggalkan Kelas Akselerasi, Masuk Kelas Inklusi

Menyambut seminar Deteksi dan Pendidikan Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa, 3 Maret 2007.
Tinggalkan Kelas Akselerasi, Masuk Kelas Inklusi

Oleh
Julia Maria van Tiel

JAKARTA-Hingga kini kita hanya mengenal kelas akselerasi (percepatan) untuk anak-anak berbakat (gifted children) Indonesia. Sesungguhnya kelas akselerasi sudah banyak ditinggalkan.
Keuntungannya memang anak didik dapat didorong agar berprestasi lebih cepat. Sayangnya, anak berbakat muda yang tengah berkembang, namun setengah dari populasi itu justru underachiever. Ini karena tumbuh kembang mereka berbeda dari anak normal, yang menyebabkan kesulitan dalam menerima pembelajaran konvensional.
Sekalipun mereka mempunyai loncatan perkembangan kognitif dan motorik kasar, terapi mereka dapat tertinggal pada kematangan perkembangan, baik fisik, emosi, motorik halus, adaptasi, sosial, bahasa, dan bicara. Ini yang menyebabkan ketidaksiapan menerima pembelajaran. Bisa juga karena membutuhkan pendekatan khusus, mereka sulit berprestasi di kelas konvensional atau klasikal.
Mereka membutuhkan pendekatan dua arah sekaligus. Mengeliminasi kesulitan akibat perkembangannya yang unik, dan juga sekaligus keberbakatannya. Jika hanya mengatasi beberapa masalah saja, dari banyak laporan, justru hanya akan menambah masalah baru. Ini disebabkan karena dorongan internal anak-anak berbakat adalah memenuhi rasa keingintahuannya yang besar melalui eksplorasi dan pengembangan intelektualitasnya. Ini membutuhkan penyaluran dan pemenuhan kebutuhan.
Andaikan hanya mengupayakan kelas akselerasi saja, anak ini tidak akan terdeteksi sebagai anak berbakat dan juga tidak akan menerima pendidikan sebagaimana keunikan, kesulitan, dan kebutuhannya. Kesemua ini mengancam nasibnya di kemudian hari.
Apa yang dibutuhkannya dalam pendidikannya adalah bimbingan guru yang memahami berbagai karakteristiknya, personalitasnya, tumbuh kembangnya, gaya berpikir, dan gaya belajarnya, yang memang berbeda dari anak-anak normal pada umumnya.
Mereka butuh pendekatan pembelajaran dua arah sekaligus. Pertama ke arah kesulitannya di mana ia membutuhkan dukungan, stimulasi, terapi, remedial teaching, dan kesabaran. Kedua, membutuhkan berbagai materi yang sesuai dengan karakteristik berpikir seorang anak berbakat yang lebih kepada materi yang penuh tantangan pengembangan kreativitas dan analisis.
Sekolah reguler yang mampu menerima anak-anak berbakat agar dapat mengikuti pendidikan saat di fase-fase sulitnya di kelas-kelas sekolah dasar bersama anak normal lainnya, sekaligus juga menerima layanan pengembangan keberbakatan, disebut sekolah inklusi.
Guru diharapkan dapat membimbingnya menapaki tahapan tumbuh kembangnya yang sulit tersebut dalam situasi aman agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara sehat dalam lingkungan yang nyaman. Sebab anak-anak berbakat yang mempunyai gejala mirip dengan autisme ataupun ADHD, tidak layak jika diterapi dan dididik sebagai autisme atau ADHD, karena sekalipun mempunyai gejala yang mirip namun mempunyai perbedaan yang tegas, serta neurobiologis dan akar permasalahan yang berbeda.
Guna memenuhi hal ini, guru perlu mendapatkan pelatihan-pelatihan yang memadai dan selalu mengikuti penyegaran keilmuan guna mengikuti perkembangan strategi pengajaran yang didukung oleh hasil-hasil penelitian mutakhir (evidence based practice) yang kini sangat pesat berkembang. n

Penulis adalah pembina kelompok diskusi Grup Anak Berbakat.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0702/09/ipt02.html

....


 

 

Sabtu, Februari 03, 2007

Deteksi Dini Anak Berbakat Perlu Dukungan Dokter Tumbuh Kembang

Deteksi Dini Anak berbakat
Perlu Dokter Tumbuh Kembang


Menyambut seminar Deteksi dan Pendidikan Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (Gifted & Talented Children) 3 Maret 2007 dari Kelompok Diskusi Orang Tua Anak Berbakat bersama Dit PSLB Mandikdasmen Depdiknas RI.


OlehJulia Maria van Tie

lJAKARTA-Anak berbakat (gifted children) biasanya ditandai dengan IQ di atas rata-rata. Hasil tesnya baru bisa dipercaya di atas usia 10 tahun, sebelumnya masih diragukan karena sedang dalam tahap perkembangan. Artinya di usia sekolah dasar mereka baru dikenal jika menggunakan batasan IQ. Namun anak-anak ini harus bisa dikenali sejak balita dan perlu dikelompokkan sebagai anak berkebutuhan khusus, karena mempunyai tumbuh kembang yang berbeda. Masa balitanya menunjukkan perilaku khusus yang dapat disalah artikan sebagai anak bergangguan perkembangan, perilaku bermasalah dan gangguan mental. Karena itu, anak-anak ini perlu dideteksi sedini mungkin, dengan melihat berbagai karakteristik tumbuh kembang dan personalitasnya agar ia dapat menerima pembinaan sebaik-baiknya sebagai anak gifted sedari awal.

Ia memerlukan pendekatan ke dua arah sekaligus. Berbagai masalah tumbuh kembang yang menyulitkan, karakteristik personalitasnya yang menyikat kesabaran orang tua dan guru, dan kearah keberbakatan sebagai potensi luar biasa yang dimilikinya. Pendekatan dua arah ini membutuhkan sejumlah profesi yang mampu menjelaskannya. Dokter, psikolog, pedagog/orthopedagog, ahli patologi wicara, dan ahli gerak. Tanpa penjelasan dari bidang-bidang keilmuan ini, tak kan mungkin orang tua dan guru mengarahkannya. Karena itu kerjasama secara multidisiplin memang sangat dibutuhkan. Namun, bidang-bidang ini tak mungkin mampu turut menjelaskan jika tidak ada penjelasan dari dokter tumbuh kembang. Ia profesi yang terdepan dalam mengamati tumbuh kembang anak berbakat.

Setidaknya, dokter tumbuh kembang harus mampu menjelaskan bagaimana prakiraan kedepan perkembangan anak tersebut dengan cara melihat berbagai komponen pemeriksaan berkala yang meliputi: perkembangan motorik halus dan kasar, perkembangan bahasa dan bicara, adaptasi, dan perilaku sosial. Dari berbagai komponen itu seorang dokter tumbuh kembang dituntut mampu melihat apakah pasien kecilnya mengalami loncatan perkembangan kognitif yang merupakan gejala balita gifted dan segera dikelompokkan sebagai anak yang membutuhkan perhatian khusus. Adanya loncatan di satu atau beberapa bagian tumbuh kembangnya akan dapat menyebabkan tumbuh kembang itu mengalami ketidak sinkronan yang dapat berakibat dalam perkembangan lain termasuk perkembangan perilaku, sosial, emosional, dan juga inteligensianya mengalami perkembangan yang krusial. Motorik kasarnya berkembang pesat ketertinggalan dalam motorik halus, kemampuan pandang ruang yang didukung oleh perkembangan perceptual (visual) menyebabkan terganggunya perkembangan pemrosesan auditory berakibat pada keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara. Ia merupakan anak-anak berisiko, jika tidak ditangani dengan baik, dapat menyebabkan perkembangannya salah arah, salah penanganan, gangguan perilaku dan emosi, serta tidak berprestasi di sekolah. Belum berkembangnya secara maksimal kedokteran tumbuh kembang di negara kita, sementara perkembangan di sisi lain deteksi anak-anak berkekhususan yang semakin detil tanpa diikuti dengan data tumbuh kembang anak, bisa jadi anak-anak gifted ini terlibat dalam berbagai diagnosa yang tidak menguntungkan baginya.

Hingga saat ini konsep tumbuh kembang di negara kita baru mampu menjangkau tumbuh kembang dengan indikator kesehatan melaui perbaikan gizi guna mencegah penyakit-penyakit infeksi yang beberapa dekade lalu banyak melanda balita Indonesia. Namun tuntutan pendidikan kini menjadi lebih luas daripada itu. Tuntutan pendidikan membutuhkan data tumbuh kembang demi kesiapan sekolah (school readiness). Data tumbuh kembang akan juga digunakan sebagai dasar deteksi keberbakatan (giftedness) sedini mungkin yang dilakukan oleh berbagai profesi lain seperti psikolog, orthopedagog/pedagog, dokter sekolah, bahkan guru dan orang tua. Di sinilah pentingnya peranan kedokteran tumbuh kembang. Sudah saatnya kini kedokteran tumbuh kembang lebih berperan aktif dalam menunjang kesiapan seorang anak terutama anak-anak berkebutuhan khusus agar dapat menerima pendidikan, stimulasi dan terapi serta pengasuhan yang sesuai dengan kondisinya. n

Penulis adalah pembina kelompok diskusi Grup Anak Berbakat

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0702/02/ipt02.html

....